Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Kisah Perantau Toraja, Ibu Maaf Aku tidak bisa Menemanimu Merayakan Natal

Sabtu, 12 Desember 2020 | Desember 12, 2020 WIB Last Updated 2020-12-12T08:03:27Z
maaf ibu aku tidak bisa menemanimu merayakan natal, perantau toraja

Torajachanel.xyz--Kisah ini mirip dengan cerita yang pernah kutulis dan posting lebih setahun yang lalu.  Ada miripnya tapi tidak sama. Ini cerita yang berbeda.


"Itu bagianku Rapa'... " seru Ana melihat kakaknya hendak mengambil potongan ikan bagian tengah. Saat itu terhidang sambal ikan mas goreng di meja makan.


Rapa' melepaskan potongan ikan dari sendok, kemudian memilih mengambil bagian ekor tanpa protes. 


Mereka adalah keluarga sederhana. Disaat tertentu saja sang ibu bisa memasak makanan enak seperti itu. Itupun hanya mampu membeli satu ekor ikan mas. Ikan itu lalu dipotong tiga. Kepala, tengah dan ekor. Pas dengan jumlah tiga orang dirumah itu. Sang ayah sudah lama meninggal.


Sebagai seorang kakak, Rapa' mesti mengalah. Meski sebenarnya bisa saja ngotot. Tapi masa harus bertengkar dengan adiknya gara-gara rebutan lauk. Bikin malu. Jadi dia hanya bisa melihat Ana menggigit potongan ikan mas bagian tengah itu dengan lahap. 


Setelah makan, ia masuk kamar. Duduk sambil merenung. Tentang hidupnya yang penuh ketidakpastian. Tentang masa depan yang suram. Hatinya sungguh galau.


Pagi-pagi sekali, Rapa' sudah pergi dari rumah. Menuju pasar Bolu, Rantepao. Seperti biasa setiap hari pasar ia bekerja sebagai calo kerbau. Lebih tepatnya, bantuin pamannya yang jadi calo kerbau. Yakni membantu jualan kerbau orang.


Misal harga kerbau dipatok pemilik 25 juta. Jika bisa dijual 25,5 juta, maka 500 ribu itulah keuntungannya. Praktek seperti ini sudah lumrah setiap hari pasar. Rapa' biasanya dapat 100 ribu dari pamannya. Lumayan buat bantuin ibu beli beras. Meski itu tidak cukup. Karena sebulan hari pasar bisa dihitung dengan jari.


Suasana pasar siang itu sedang ramai. Sedikit jorok. Tanah juga basah dikarenakan sebelumnya sempat turun hujan. Kotoran kerbau bertebaran dimana-mana. Kadang tidak sengaja sandal Rapa' menginjaknya. Ketika diangkat terciprat mengenai kaki dan celana.


"Berapa harganya ini?" Seorang pembeli menunjuk kerbau yang dipegang Rapa'


"Dua puluh delapan juta," jawab paman Rapa'


"Bisakah 24," tawar pembeli


"Wah terlalu murah itu, pasnya 26, 5," balas paman Rapa'


"Oke, mau lihat-lihat lainnya dulu," kata si pembeli pamit."


Menjadi calo kerbau tidak pernah ada dalam pikiran Rapa' sebelumnya. Keadaanlah yang memaksa. Dulu ia bercita-cita jadi seorang dokter. Tapi kematian sang ayah mengubah segalanya. Sejak kelas 1 SMA, ia bertumbuh tanpa sosok seorang ayah. Ibunya tidak bekerja. 


Ketika tabungan habis dan perabotan rumah mulai habis terjual, sang ibu kemudian bekerja setiap pagi sebagai tukang masak sokko' di warung tetangga. Dari situlah biaya keperluan sekolah dan kebutuhan rumah tangga didapat. Beruntung Rapa' bisa tamat SMA dengan baik.


Lulus sekolah, Rapa' tidak lagi berpikir jadi dokter. Biaya kuliahnya sangat mahal. Ingin jadi guru saja. Namun tetap saja sang ibu tidak mampu membiayai. Jadi menganggurlah ia di rumah. Sudah satu setengah tahun.


"Hey melamun saja!"


Rapa' tersentak. Menoleh. Ternyata bapak dari Linus yang menepuk punggungnya."


"Eh...om."


"Lho kamu ga kuliah?" tanya ayah temannya, kaget melihat Rapa' memegang kerbau di pasar hewan itu.


"Belum ada biaya Om,"


"Ga kerja?"


"Udah cari Om tapi ga dapat-dapat. Susah cari kerja di Toraja"


"Kamu mau kerja di kota besar?"


"Wah mau sekali Om."


"Ga tanya kerja apa?"


"Kalau saya kerja apa saja Om, yang penting ada duitnya."


"Tapi bicara dulu sama ibumu, kalau setuju, minggu depan kamu berangkat bersama ponakanku."


"Beres om."


Betapa senang hati Rapa' punya kesempatan pergi merantau.


"Oh ya Om, ngomong-ngomong, gimana kuliah Linus di teknik mesin Unhas?"


"Lancar-lancar saja Nak. Semester kemarin ipnya bagus."


"Syukurlah om."


Linus adalah teman sekelas Rapa' di SMA. Mereka sering belajar bareng di rumah Linus. Makanya Rapa' bisa mengenal dengan baik keluarga temannya itu.


Setelah itu ayah temannya pamit. Berkeliling melihat-lihat kerbau. Dalam hati, Rapa' sangat bersyukur. Akhirnya beban yang selama ini mengganjal pikirannya bisa terlepas. Sebelumnya, ia belum pernah pergi ke tempat jauh, juga belum tahu seperti apa kehidupan di tempat ia akan bekerja. Namun baginya punya kesempatan pergi merantau, itulah yang terpenting.


Oh senangnya, bisa pergi merantau.



Sesudah makan malam, Rapa' berbicara dengan sang ibu. Tak banyak kata-kata keluar dari bibir wanita bertubuh kurus itu. Beberapa kali ia menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu. Anaknya kini telah tumbuh menjadi pribadi dewasa dan merasa punya tanggung jawab untuk menafkahi keluarga. 


Akhirnya sang ibu merestui.


"Nak kalau merantau jangan seperti om Natan ya?"


"Kenapa dengan om Natan Buk?"


"Sudah bertahun-tahun merantau tak pernah pulang."


Hening sesaat


"Oh tenang saja Bu', Saya akan sering pulang melihat Ibu dan Ana."


Sekali lagi sang ibu terharu. Ia memandang anaknya dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Ya sudah, ibu mau seterika pakaian dulu."


"Silahkan Bu'..."


Rapa' lalu menonton televisi. Tiba-tiba Ana muncul habis dari kamar mandi. 


"Kenapakah diganti acaranya tivinya?" protes Ana yang duduk di bangku kelas 3 SMP


"Seru ini sepakbola," jawab Rapa'


"Nah belum selesai itu acara bedah rumah kunonton tadi."


Kedua anak itu kemudian berebutan remote tivi. Membuat sang ibu tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak-anaknya. 


Seminggu kemudian Rapa' pun pergi merantau ke Tangerang. Bersama Yansen, sepupu dari Linus. Yansen sendiri sudah dua tahun bekerja di sana. Baru-baru ini dia pulang cuti karena ada urusan di kampung.


Di Tangerang, Rapa' bekerja di toko bangunan. Toko bangunan yang besar. Toko itu karyawannya lebih 50 orang. Ada yang dibagian gudang, penjualan, pengiriman dan sebagainya. Rapa' sendiri di tempatkan dibagian penjualan. Ada enam orang Toraja yang bekerja disitu. Termasuk Rapa'.


Setelah empat bulan diperantauan, Desember pun tiba. Tidak ada rencana Rapa' untuk pulang kampung. Meski ada libur Natal di tempatnya bekerja. Maklum ia belum lama bekerja. Penghasilan belum bisa diandalkan. Bahkan untuk sekedar mengirim ke kampung juga belum bisa. Menghidupi diri sendiri saja masih kesusahan.


Padahal untuk tempat tinggal sudah tidak bayar, karena Rapa' tinggal di mess karyawan. Satu kamar dengan beberapa orang di kamar yang sempit. Dengan kasur yang berada di lantai. Meski begitu tetap saja penghasilannya belum mencukupi.


Tahun berganti....


Ternyata masih tetap sama, gaji tak bisa diandalkan. Hanya cukup untuk makan dan kebutuhan hidup diperantauan. Untuk kebutuhan hiburan, jalan-jalan jelas tidak cukup. Rapa' juga jarang bermain medsos. Irit paket data. Tidak punya hutang di warung itu saja sudah syukur.


Tak terasa Desember datang lagi. Desember kedua setelah selama Rapa' di perantauan.


"Rapa'...Kamu ga pulang kampung libur Natal ini," tanya Indra yang saat itu menggemas barang. Ia akan pulang liburan ke Toraja.


"Tidak, tahun depan saja."


"Mau kirim sesuatu gak ke kampung?, Aku pulang besok"


"Oh ga Indra, belum sempat belanja."


Indra hanya tersenyum. Tentu saja dia tahu alasan kenapa temannya tidak pulang. 


Libur Natal itu hanya Indra dan Yansen yang pulang. Maklum mereka sudah lama bekerja. Jadi gajinya sudah bisa diandalkan. Sedang Rapa' dan tiga orang lainnya yang berasal dari Toraja, memilih untuk tetap tinggal liburan di tanah rantau.


Rapa' duduk merenung. Dulu ia heran dengan perantau yang jarang pulang. Apa mereka tidak kangen keluarga. Tidak kangen kampung halaman. Hingga jarang pulang. Kini ia sudah tahu alasannya. Meski ada juga perantau yang sukses dan hidupnya berkecukupan, tapi malas pulang kampung. Setidaknya kini ia sudah tahu salah satu alasannya. Duit pas-pasan. 


Dua puluh lima Desember, Natal pun tiba. Rasanya aneh melewatkan momen seperti itu dengan hanya berdiam diri di mess. 


Pikiran Rapa' teringat ke kampung. Betapa serunya merayakan Natal di Toraja. Dengan keluarga dan teman-teman. Sering pula dulu ia ikut kegiatan camp Natal. Sungguh berkesan.


Teringat juga dengan teman-teman sekelasnya dulu. Hampir semuanya kuliah. Baik di Makassar maupun di Jawa. Ada juga  yang kuliah di Toraja. Tentu mereka kini menikmati liburan di kampung.


Mungkin beberapa dari mereka saling bertemu dan bercerita tentang pengalaman kuliah. Sedang dia sendiri harus terdampar di perantauan dengan kondisi pas-pasan.


Terbayang pula wajah Enni. Gadis manis berambut sebahu yang dulu naksir padanya. Yang sebenarnya Rapa' juga suka. Sayang waktu itu Rapa' belum berani menyatakan cinta. Kini gadis itu kuliah di jurusan psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Apakah Enni masih menyukainya jika tahu keadaan dirinya sekarang, Rapa' tidak yakin.


Di tanggal dua puluh lima Desember itu, Rapa' ingin menelpon Ibunya. Pulsa dihapenya tinggal dua ribu, jadi dia ke warung sebelah mengisi pulsa lima ribu. Bisa buat TM. AliasTalk Mania. Telepon bisa lama, jadi selain telepon ibu juga bisa buat telepon kerabat lain di kampung.


Beberapa saat setelah itu


Rapa' melihat hapenya.Ternyata ada panggilan masuk dari sang ibu. Tidak sempat ia dengar tadi karena sedang mandi. Segera ia menelpon balik.


"Halo Bu'..."


"Halo Nak, Selamat Natal ya.


"Selamat Natal jg Bu'."


"Kamu tidak bisa pulang Natal dan tahun baru ini Nak ?


"Tidak libur Bu'."


"Masa kantor tidak ada libur?"


"Libur sih, tapi cuma 4 hari, waktunya habis dijalan, nanti saja tahun depanAku janji pasti pulang, nanti saya bawakan oleh2 buat Ibu dan Ana 


Hening 


"Ya tidak apa kalau memang tidak bisa pulang, kamu udah makan Nak ?


"Sudah Bu' , Ibu masak apa hari ini?"


"Daging sop kacang merah, kebetulan banyak yg bawa daging bulan Desember ini ke rumah."


Tuuut..tut..tut.. telepon terputus mungkin karena ada gangguan jaringan..


Sebenarnya Rapa' liburnya lebih dari 4 hari, Dia juga bisa minta cuti kalau mau pulang kampung. Pasti diberi ijin. Apalagi kalau ingin pulang kampung tentu dapat libur lebih lama lagi.  Tentu saja itu alasan saja. Alasan sebenarnya karena duit belum mencukupi


Terpisah dari keluarga memang berat, ingin pulang tapi tak punya uang. Terdampar diperantauan dgn uang pas-pasan.Hanya mampu melihat dan membayangkan dari jauh indahnya kebersamaan mereka yg berkumpul dgn keluarga dimomen Natal dan Tahun baru seperti ini.


Bagi orang Toraja yang tidak merayakan Natal, liburan Desember dan Tahun baru tetap adalah sesuatu yg ditunggu karena saat-saat itulah para perantau berkumpul dikampung halaman dengan berbagai macam acara dan keseruan.


Sedang mereka yg tinggal diperantauan karena kondisi yg tidak memungkinkan untuk pulang, hanya mampu bercanda sesama perantau yang senasib, agar mereka tidak larut dalam kesedihan karena teringat akan kampung halaman.


Sekalipun bisa pulang tapi tanpa membawa uang, bagi mereka itu hanya akan memperlihatkan kesusahan. Ada juga yang merasa malu


Jadi sesungguhnya banyak diantara perantau yang sebenarnya teramat rindu untuk  pulang ke kampung, tapi karena kondisi yg masih pas-pasan sehingga mereka kemudian berprinsip


PULANG MALU, TAK PULANG RINDU 


Buat kaum perantau, apakah libur Natal dan tahun baru ini Anda pulang ? 

Itulah Kisah Perantau Toraja, Ibu Maaf Aku tidak bisa Menemanimu Merayakan Natal

TAMAT.......

Penulis :Steven Adi (Brad Kejepit)

×
Berita Terbaru Update